Minggu, 17 Februari 2019

KASIH YANG HILANG

Februari 17, 2019 14 Comments



Kasih tersadar dari pingsannya setelah beberapa hari dia terbaring di rumah sakit. Hal terakhir yang dia ingat sedang menyeberang jalan. Tiba-tiba ada mobil yang menabrak tubuhnya hingga terpental.


Kasih sudah lima hari tak sadarkan diri. Lukanya cukup serius. Beruntung ketika kecelakaan itu terjadi, Kasih sedang sendiri. Dia sempat menitipkan nenek yang dirawatnya pada teman sebelum dia pergi.

“Kasih, dokter mengatakan kalau ...,” Nyonya Huang tak sanggup meneruskan kalimatnya.

“Apa kata dokter, Nyonya?” tanya Kasih gusar.

“Dokter mengatakan ... kemungkinan besar kamu akan mengalami kelumpuhan,” kata Tuan Huang. 

Walau sebenarnya dia tak tega mengatakan. 

“Tetapi, dokter akan mengusahakan kesembuhan dengan cara lain,” lanjut Tuan Huang berusaha menghibur kasih. 

Hilang sudah semua mimpi dan cita-cita Kasih. Pulang dengan membawa kesuksesan agar keluarga dan anak-anaknya bangga padanya. Semua angan dan impiannya harus pupus di tengah perjuangannya. Mau tidak mau dia harus pulang. Siapa yang mau mempekerjakan seorang yang lumpuh?

Kasih menangis tanpa suara. Terbayang wajah kedua buah hatinya. Seandainya delapan tahun lalu dia mau mendengar ucapan suaminya, tentu kejadian ini tak akan terjadi. 

‘Maafkan aku, Pak,’ Hanya itu yang Kasih bisa ucapkan. 
Delapan tahun meninggalkan keluarga tanpa mengabari mereka sedikit pun. Kasih pergi dengan amarah yang membuncah. Kini dia hanya bisa menangis. Dalam sesal yang amat sangat, dia memanjatkan doa.

‘Ya Allah, ijin kan hamba meminta maaf pada keluarga hamba. Pada suami dan anak-anak hamba. Hamba pasrahkan hidup ini pada-Mu. Ampuni segala keangkuhan hamba selama ini. Ampuni segala dosa yang telah hamba lakukan. Ampuni hamba yang selalu menjauh dari-Mu,’ Kasih tak sanggup lagi meneruskan doanya. 

Air matanya sudah membanjiri wajahnya yang masih sedikit bengkak. Dia merasakan perih di bagian pipi kirinya. Menurut dokter luka di wajahnya akan membekas, untuk memulihkannya perlu biaya yang tak sedikit dengan operasi plastik.

Kasih berada dalam kondisi jiwa yang pasrah. Tak ada keinginan lain selain bertemu keluarganya saat ini. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, tampak cahaya putih menyilaukan. Semakin lama semakin terang dan mata Kasih tak sanggup melihatnya. Dari balik cahaya putih itu, muncul seorang berpakaian serba putih. Wajahnya bersih dan bercahaya. Senyumnya terasa sangat mendamaikan dan menenangkan hati Kasih. Tak ada rasa takut sedikit pun di hati Kasih. 

Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya, dia mengangguk seraya tersenyum. Kasih menggelengkan kepalanya. Tak mungkin dia bangkit. 

“A--aku lumpuh,” kata Kasih terbata.

Dia menggelengkan kepalanya, “Tidak, kamu tidak lumpuh. Bangunlah. Aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Kasih tak mengerti, tetapi dia menerima uluran tangannya. Perlahan dia menggerakkan kakinya. Kasih tak percaya, dia tidak lumpuh! Dia bangkit dan berdiri. Perlahan berjalan dengan dituntun oleh sosok bersinar yang membawa keajaiban. 

Dengan tertatih, Kasih melangkah memasuki sinar putih yang menyilaukan matanya. Dia tak peduli mau dibawa ke mana, yang dia tahu saat ini dia bisa berjalan. Kasih menyusuri lorong panjang, dia tak bisa melihat apa pun, sinar putih menyilaukan itu membuat matanya tak bisa terbuka sempurna.

“Teruslah melangkah, kamu akan menemukan apa yang kamu inginkan dalam doamu.”

Sosok itu melepas tangannya, dan membiarkan Kasih berjalan sendiri. 

Kasih meraba mencari pegangan agar langkahnya tak tersesat. Sinar putih itu lama kelamaan tak lagi menyilaukan. Ada suara anak-anak sedang bermain dan bergurau. Bahagia sekali kedengarannya. Kasih mempercepat langkahnya. Dia seperti mengenal suara itu. 

“Makkk, Mas Danang nakal.” 

Seorang gadis kecil tiba-tiba memeluk Kasih. Ada seorang bocah lelaki berbadan gempal mengejar sambil membawa sebatang ranting. Ada ulat kecil berwarna hijau berjalan di atas ranting tersebut. 

Gadis kecil itu berteriak manja sambil berusaha bersembunyi di balik tubuh Kasih. Bocah lelaki berwajah tampan itu masih mengejarnya. Kasih masih tak mengerti apa yang terjadi. Sesaat yang lalu dia masih terbaring di rumah sakit dengan perban membungkus hampir sekujur tubuhnya. Kini dia ada di antara dua bocah yang selama delapan tahun menghiasi mimpinya tiap malam. Perban di tubuhnya hilang, berganti dengan baju daster yang sudah tak bagus lagi. Tapi anehnya, mereka tak berubah, masih sama seperti ketika Kasih meninggalkan mereka. 

Dua buah hatinya Danang dan Gadis. Ketika itu mereka masih berumur enam dan delapan tahun. Sekarang di depan Kasih anak-anaknya masih sama. Kasih menatap mereka, antara tak percaya, dan tak mengerti apa yang sedang terjadi.

Kasih memeluk Gadis sambil berurai air mata. Tangannya meraih tubuh Danang. Merengkuhnya dalam pelukan. Menciumi mereka bergantian, memastikan bahwa ini bukan mimpi. 

Buah hati kasih saling menatap tak mengerti. 

“Mamak kenapa? Mamak sehat?” tanya Gadis polos.

“Mamak kangen kalian,” kata Kasih di tengah tangis bahagianya.

“Kangen? Mamak kan barusan pergi ke kali cuci baju,” ujar Danang semakin tak mengerti. 

“I—iya. Tapi, Mamak sudah kangen sama kalian. Kalian enggak kangen Mamak toh?” jawab Kasih sedikit gagap.

“Ha ha ha ... Mamak ini lucu, masa ke kali dekat situ saja sudah kangen. Apalagi nanti kalau Mamak jadi pergi ke Taiwan,” kata Danang sambil tertawa. 

Tiba-tiba Gadis memeluk Kasih, “Mamak, enggak usah pergi ke Taiwan ya, Mak?” pintanya. 

Bulir bening mulai mengalir di pipinya yang montok dan hitam. Kasih berjongkok di depan gadis kecil yang manis dengan lesung pipi yang selalu menghiasi senyumnya. Membelai rambutnya yang kecokelatan. Mengecup keningnya dan merengkuhnya dalam pelukan.

“Enggak, Nak. Mamak janji enggak akan meninggalkan kalian. Biar kita di sini, berkumpul sama Mas Danang dan bapak. Mamak enggak akan meninggalkan kalian lagi,” Kasih tak sanggup lagi menahan air matanya. Mereka bertiga menangis berpelukan. 

“Mak, ada Pak Toyo datang,” suara seorang lelaki membuat Kasih melepas pelukannya.

“Pak ....” Kasih menghambur ke pelukan lelaki yang berwajah mirip anak lelakinya. Ilham, lelaki berkulit hitam manis itu keheranan. Dia tak mengerti kenapa istrinya menangis di pelukannya. 

“Maafin Bapak, Mak. Kalau tadi malam Bapak ngomong kasar sama Mamak,” ucapnya sambil membalas pelukan wanita yang sangat dicintainya.

Kasih hanya mengangguk. Tak bisa berkata-kata. Hatinya sangat bahagia bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarganya. 

“Pak Toyo nunggu di depan, Mak,” ujar suaminya sambil mengusap air mata Kasih.

“Bapak bilang sama Pak Toyo, Mamak enggak jadi pergi ke Taiwan. Mamak mau di rumah saja. Berkumpul sama kalian lebih berharga daripada apa pun di dunia ini,” kata Kasih mantap sambil menatap buah hati dan suaminya bergantian. 

***

Dikabarkan seorang Pekerja Migran Indonesia yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan lalu lintas, hilang secara misterius dari Rumah Sakit Ta Ai di Taipei. 

Weedee
Shanhai
1212019


Senin, 11 Februari 2019

CINTA MEY LING

Februari 11, 2019 32 Comments




Mey Ling memperhatikan mobil orang-orang Belanda itu. Rasanya nyaman sekali duduk di dalamnya. Tak kepanasan, tak kehujanan juga tak terkena debu jalanan. Sedang asyik mey Ling memperhatikan, tiba-tiba namanya dipanggil.

"Mey ... Mey Ling," Suara pemuda yang sudah dikenalnya.

Mey Ling tak berani menjawab apalagi membalikkan badannya. Dia hanya menunduk sambil terus berjalan.

"Mey, apa kabar? Kamu ndak jawab aku to Mey?" tanya pemuda itu gusar.

Mey Ling semakin menundukkan wajahnya. Dia tak mau pemuda itu melihat pipinya merona. 

Tiba-tiba tubuhnya berdiri di depan Mey Ling. Hampir saja Mey Ling jatuh. Namun dengan sigap tangan pemuda tampan itu menangkap tubuh Mey Ling. Mereka berpelukan hingga menjadi tontonan orang yang lalu lalang. Pertigaan Pakualaman sangat ramai karena banyak andong yang mangkal di sana. 

Mey cepat-cepat menepis tangan si pemuda. 
Mey Ling menatap pemuda asli jawa dengan wajahnya yang manis itu. Kemudian dia menunduk, tak mau lelaki tampan dihadapannya tahu gundah hatinya. 

"Mey, bisa kita bicara sebentar?" pintanya pada Mey Ling.

"Maaf Kak, Mey ditunggu Papa. Nanti kalau Mey pulang terlambat Papa kawatir," Mey berusaha menghindar dengan halus.

"Sebentar saja, Mey. Aku hanya mau pamit," katanya sedikit memaksa.

"Pamit? Kak Bagus mau kemana?" Mey mendongakkan kepalanya. Dia tampak gagah dengan seragamnya. Mey Ling terpana melihatnya. Dia sudah berhasil mencuri hati Mey Ling sejak pertama bertemu. Membuat hari-hari gadis kuning langsat itu penuh bintang.

"Aku akan bergabung dengan kawan-kawanku yang lain ...," kalimatnya terputus. 

Tanpa sepatah katapun, Mey Ling berjalan menjauh dari Bagus. Tak dihiraukannya panggilan Bagus. Air mata tak lagi bisa dibendung Mey Ling. Dia mempercepat langkahnya, secepat derasnya air mata yang mengalir di pipi.

19 desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militernya yang ke dua. Dalam waktu sekejap Kota Yogyakarta sebagai ibukota negara yang baru saja merdeka, jatuh ke tangan Belanda. Mey Ling terlihat gelisah. Dia ingin keluar rumah mencari tahu apa yang terjadi dengan Kak Bagus dan pasukannya. Karena berita yang beredar pasukan Tentara Rakyat dipukul mundur dengan telak oleh Belanda. 

"Kong xi, kong xi, selamat Tuan Albert. Akhirnya Belanda bisa menguasai Indonesia lagi," kata Papa Mey Ling tertawa puas. 

"Terima kasih Tuan A Ling. Tanpa bantuan Anda dan teman-teman, kami tak bisa dengan mudah menguasai Yogya. Pribumi dan ekstrimis sudah bersatu. Kami beruntung masih ada yang memihak kami di Yogya," Tuan Albert menepuk-nepuk pundak Tuan A Ling dengan bangga.

Mereka pun tertawa senang menyambut kemenangan Belanda.

Mey Ling sama sekali tidak menyangka, papanya tega berkhianat. Menjual negeri yang sudah memberinya penghidupan. Mey Ling menangis sendirian.

Di desa Sobo, Pacitan tempat tentara rakyat bergerilya. 

"Gus, kenapa kamu? Ngelamun lagi? Pasti lagi membayangkan gadis cina itu, kan?" goda Tarjo sahabatnya.

"Jaga bicara kamu, Jo. Aku gak suka kamu bilang dia Cina," kata Bagus agak meradang. 

"Lo, kenyataannya dia orang Cina Gus. Gak usah marah," Tarjo semakin menggodanya.

Bagus meninggalkan Tarjo yang masih tertawa senang melihatnya merajuk. 

Bagus terdiam, dia mengambil sebuah potret hitam putih berukuran kecil dari saku bajunya. Wajahnya yang cantik dengan hidung kecil yang mancung, bibir tipis dan mata sipit khas kaumnya. Rambut lurus hitam yang selalu diekor kuda, membuatnya sangat istimewa di mata Bagus. Pertemuan mereka yang tak sengaja di markas pemuda beberapa waktu lalu, membuatnya tak mampu memejamkan mata hampir tiap malam. 

Dari fisiknya siapapun tahu, gadis itu bukan pribumi. Kedatangannya bersama papanya ke Markas Pemuda hanya mengantarkan perbekalan yang dipesan oleh para pejuang. Papanya terlihat dekat dengan pemuda pejuang. Dia sering memberi harga yang relatif murah untuk barang yang dibeli mereka.

1 Maret 1949. Tentara Rakyat dan rakyat Yogya bersatu menyerang balik Belanda. Serangan fajar yang dilancarkan pejuang berhasil membuat tentara Belanda kocar kacir. Walau hanya enam jam menguasai kota Yogya tapi efeknya membuat mata dunia terbuka. Mereka tahu bahwa Negara Indonesia masih ada. 

"Pengkhianat!" Tarjo dengan geram menyeret Tuan A Ling. 

"Pengkhianat pantas mati," katanya sambil menodongkan pistolnya ke kepala Tuan A Ling.

"Jo, jangan. Ingat perintah Sultan. Tak ada yang boleh menyakiti mereka. Apapun alasannya!" Bagus berusaha meredam kemarahan Tarjo.

"Ampun ... ampun ...," Tuan A Ling memohon.

Bagus Mengantarkan Tuan A Ling pulang. Karena kawatir kemarahan rakyat Yogya atas pengkhianatan yang dilakukan etnis mereka belum mereda.

"Terima kasih, Kak Bagus sudah menyelamatkan Papaku. Maafkan juga atas kesalahan kami. Kalau saja ...," Mey Ling tak mampu meneruskan kalimatnya.

Air matanya mengalir deras. Bagus memandang iba gadis yang membuatnya jatuh cinta itu. Bagus tahu pengkhianatan papanya tak ada hubungan dengan Mey Ling. 
Sultan Hamengkubowono IX memerintahkan untuk tetap melindung etnis Cina. Namun Sultan juga memutuskan menghapus Hak mereka atas kepemilikan tanah di wilayah Yogyakarta.

Pengkhianatan memang harus dibayar mahal. 

Weedee
shanhai
14122018

Senin, 04 Februari 2019

SEPENGGAL KISAH TENTANG KITA

Februari 04, 2019 37 Comments



SEPENGGAL KISAH TENTANG KITA

Hari masih sore ketika Arga sampai di terminal bis Kota Blitar. Tinggal sekali lagi naik bis atau angkot dia bisa sampai ke rumahnya.
‘Sudah banyak berubah,’ katanya dalam hati.
Banyak tempat yang dilewati angkot menuju desanya, tapi Arga sudah tak ingat lagi.  Ketika dia melewati sebuah rumah sakit yang kelihatan masih baru bangunannya, dia sempat terheran-heran.
“Baru toh, Pak rumah sakitnya?” tanya Arga pada sopir angkot.
“Lumayan, Mas,” jawab pak sopir singkat tanpa menoleh pada Arga.
“Udah berapa lama, Pak?” tanya Arga penasaran.
“Kira-kira empat tahunan,” jawabnya, kali ini dia menoleh sekilas melihat Arga.
“Baru pulang dari rantau toh Mas?” kali ini si sopir yang bertanya.
“Iya Pak,” Arga menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
Arga tak ingat kapan terakhir dia ada di kota kelahirannya. Namun, dia tak pernah lupa apa yang membuatnya pergi dari kota ini.
***
[Mas Arga, cepat pulang Mas. Penting!] Pesan di WA dari Arti, adiknya.
[Ada apa? Belum waktunya jam pulang. Bentar lagi.] Arga menjawab.
[Wis toh, Mas. Pokoke mulih sek. Penting tenan iki!] Jawab Arti semakin mendesak Arga.
[Ono opo toh?] Tanya Arga penasaran.
Arga akhirnya meminta izin untuk pulang lebih cepat kepada pemilik percetakan tempat dia bekerja.
Dalam perjalanan menuju rumah, Arga melihat banyak orang berkumpul di sekitar kediamannya. Mereka memandang Arga sambil berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bisikkan. Namun, Arga merasa ada yang tak beres.
Sampai di rumahnya, sudah banyak orang berkumpul. Ada Bapak yang wajahnya seperti menahan emosi. Ibu yang menangis sesenggukan di depan pintu kamar. Arti yang sesekali menyeka mata dengan ujung hijabnya. Ada Pak RT juga Pak RW yang masih berseragam dinas PNS.
Arga juga melihat Sari, istrinya duduk bersebelahan dengan seorang lelaki yang dia kenal dengan baik. Sapto, sahabatnya sejak kecil. Juga Murni, istri Sapto yang gelisah mondar-mandir sambil menggendong anak mereka yang masih balita. Murni terlihat sangat geram dan berusaha menahan emosi.
Arga berdiri di pintu memandang satu-satu orang di ruangan itu.
“Ada apa ini?” tanyanya lemah hampir tak terdengar.
Dia tak mau berprasangka. Arga berusaha menata hati dan emosinya.
“Begini Nak Arga ...,” kata Pak RT membuka percakapan.
Belum selesai Pak RT bicara, Murni sudah menyahut dengan emosi.
Bojomu kelon karo bojoku, Kang!!’ kata Murni dengan emosi yang sudah tak bisa dia tahan.
Arga terdiam. Tangannya mengepal, giginya gemeretak menahan emosi. Matanya mulai panas oleh cairan yang memaksa ingin keluar. Arga menatap tajam pada kedua orang yang sangat dekat di hidupnya. Kalau tak ada orang, entah apa yang akan Arga lakukan pada keduanya.
 Hati Arga hancur, tetapi dia tak mungkin meluapkan emosinya di depan orang banyak. Itu sama saja membuka aibnya sendiri.
***
Arga tak pernah menyangka perkawinannya dengan istrinya harus berakhir di meja hijau. Padahal mereka baru menikah selama tujuh bulan. Perempuan yang sangat dicintai dan dipujanya tega mempermalukan dia dan keluarganya.
“Ceraikan aku atau akan aku bongkar semuanya,” kata Sari setengah mengancam.
Arga terdiam mendengar ancaman Sari. Padahal dia sudah memaafkan kesalahan Sari. Arga berharap bisa membuka lembaran baru untuk rumah tangga mereka. Namun kenyataannya Sari tetap memilih berpisah dari Arga.
“Aku gak akan bahagia sama kamu, Kang!” kata Sari tegas.
Arga terdiam mendengar kejujuran istrinya.
“Maafkan aku, Kang. Kalau saja sejak dulu kamu jujur padaku, tak mungkin aku mau menikah  sama kamu,” katanya kesal.
Ya, aku memang salah. Tak jujur tentang kondisiku. Nasi sudah jadi bubur, apa mau dikata.

Arga akhirnya mengalah. Dia menceraikan Sari tanpa syarat apa pun. Biarlah Sari memilih jalan hidupnya sendiri mungkin dia akan lebih bahagia tanpa Arga. Arga berharap Sapto berlaku jantan, mau mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Sari. Namun, kenyataannya Sapto tetap memilih keluarga kecilnya. Tak berapa lama Sapto dan keluarganya pindah dari desa mereka. Tak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Kini Sari yang kebingungan mencari Sapto. Kabar terakhir yang Arga dengar, Sari sedang mengandung anak Sapto
***

Arga merasa sudah tak mampu tinggal di desanya. Dia memutuskan merantau ke Kalimantan. Dia ingin mengubur semua masa lalu dan melupakan semua sakit hatinya. Melupakan perempuan yang sangat dia cintai sekaligus sangat dia benci.
Arga tak sepenuhnya menyalahkan Sari yang akhirnya memilih berselingkuh dengan Sapto. Arga tahu kenapa Sari sampai nekat melakukan itu, karena sebagai suami Arga tak bisa memenuhi kewajibannya memberi nafkah batin pada istrinya.


Weedee
Shanhai
18122018

Senin, 28 Januari 2019

SAHABAT KIKAN

Januari 28, 2019 8 Comments


SAHABAT KIKAN

Bocah manis berkulit agak gelap, berlari kecil menyusuri jalan setapak menuju hutan kecil di ujung desa. Sesekali dia melompat, dan berputar diiringi lagu yang dia nyanyikan. Rambut panjangnya diikat dua menyerupai tanduk dengan pita berwarna merah dan putih. Di tangannya terlihat ada boneka beruang yang sudah lusuh nyaris tak kelihatan warna aslinya.

Gadis kecil yang beranjak remaja itu berbelok dan memasuki hutan kecil yang sangat teduh. Pohon-pohon yang besar dan rimbun daunnya membuat suasana terasa sejuk di dalamnya. Gadis kecil yang manis itu membentangkan kedua tangannya. Dia menghirup udara yang segar dengan senyum mengembang dan mata terpejam.

"Sedang apa, Dik?" tanya seorang lelaki yang entah dari mana datangnya.

  Sedikit terkejut si gadis kecil itu, dia memandang lelaki misterius yang sudah berdiri tak jauh darinya. Dia tersenyum lebar.

"Aku sedang menunggu  temanku," jawab si gadis dengan polos.

"Teman? Aku tak melihat siapa pun di sekitar sini," tanya lelaki itu keheranan.

"Mereka belum datang, Om. Sebentar lagi mereka sampai," si gadis meyakinkan lelaki itu.
"Ooo ... boleh aku ikut bermain?" tanyanya pada si gadis polos.

"Boleh, boleh sekali. Tapi nanti Om harus ikut aturan kita ya. Enggak boleh protes!" kata si gadis tegas.

"Ok!" laki-laki itu menjawab singkat sambil mengacungkan jempolnya.

'Manis sekali kamu, Sayang. Sepertinya hari ini aku sangat beruntung. Ada teman untukku melewati malam ini.'

"Ayo, Om. Kita masuk ke dalam hutan. Biasanya temanku menunggu dekat pinggir danau," Gadis kecil itu menggandeng tangan lelaki yang dipanggilnya Om memasuki hutan kecil.

"Oh iya, nama Om siapa? Aku Kikan, dan ini Cimot sahabatku," kata Kikan seraya menunjukkan boneka beruang kecil lusuh pada si Om.

"Nama Om, Genta. Kikan boleh panggil Om Genta. Rumah kamu di mana, Sayang? Apa tak ada yang mencari kamu bila bermain sendiri di sini?" tanya Om Genta menyelidik.

"Tenang saja Om, Ayah dan Ibuku takkan mencariku. Mereka sibuk bekerja. Jadi sebelum mereka pulang, aku sudah ada di rumah," kata Kikan seraya tersenyum lebar.

'Benar-benar hari keberuntunganku,' kata Genta dalam hati.

Matanya mulai menatap liar tubuh Kikan. Gadis yang sedang beranjak remaja ini memiliki tubuh yang aduhai. Dadanya penuh berisi walau masih terbilang kecil. Pinggangnya yang ramping dengan pinggul yang tampak kencang, membuat Genta menelan ludahnya diam-diam. Imajinasi liarnya sudah menguasai dirinya.

Kikan membawa Genta ke pinggir danau di tengah hutan. Ada gubuk kecil di bawah pohon besar di seberang danau. Suasana yang tenang nyaris tak ada suara. Hanya terdengar suara burung berkicau dan binatang hutan lainnya. Angin semilir menyejukkan bertiup di sekitar danau. Airnya yang jernih dan tenang bagai cermin raksasa yang memantulkan kembali lukisan alam di sekelilingnya. Sinar matahari yang menerpa permukaan danau berkilau bagai permata abadi.
Sesaat Genta berpikir untuk mengurungkan niatnya. Dia tak ingin merusak suasana yang tenang ini dengan melampiaskan hasratnya pada Kikan.

Tiba-tiba mata Genta terbelalak demi melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya. Hasratnya yang sudah reda, tiba-tiba bangkit kembali.  

"Ayo Om kita berenang," ajak Kikan sambil melepas pakaiannya satu persatu.

Hingga yang tertinggal hanya pakaian dalamnya saja. Lagi-lagi Genta menelan ludahnya sendiri. Jakunnya naik turun, napasnya mulai memburu. Tubuh Kikan ternyata sangat bersih, hanya tangan dan kakinya yang agak gelap, mungkin karena sering terpapar sinar matahari. Tubuh itu mulai merajai pikirannya. Matanya nyaris tak berkedip memandangi tubuh Kikan yang  padat berisi. Genta meremas-remas sendiri tangannya dengan gemas.

Byurrrrr....

Kikan melompat tanpa canggung ke danau, dia melambai-lambaikan tangannya memanggil Genta. Tanpa ragu sedikit pun, Genta melepas pakaian dan celana jeans-nya.
Dia menyusul Kikan menceburkan diri ke danau. Terdengar tawa Kikan. Kikan berenang ke tengah danau. Menjauh dari Genta.

Genta mencoba menyusul Kikan tapi dia merasakan ada yang menggigit kakinya. Sakit sekali. Tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat. Tubuhnya dibawa semakin dalam ke dasar danau. Genta berusaha memanggil Kikan. Apa daya suaranya hilang di dalam air. Sebelum Genta benar-benar tenggelam, dia sempat melihat Kikan melambaikan tangan padanya sambil tertawa senang. Entah apa yang dikatakan Kikan. Genta sudah tak mampu mendengarnya.

Kikan meneruskan berenangnya tanpa sedikit pun rasa takut. Tiba-tiba di sebelah Kikan muncul seekor buaya yang sangat besar. Tubuhnya hampir sepuluh kali lipat besarnya dari tubuh Kikan. Buaya itu menyentuhkan ujung hidungnya pada tubuh Kikan. Kikan pun menyambutnya dengan gembira.

"Bagaimana makanan hari ini? Cukup untuk seminggu kan? Ingat jangan terlalu banyak makan. Tubuhmu sudah sangat besar. Lagi pula sekarang sudah jarang sekali ada orang yang datang ke mari," kata Kikan sedih sambil memeluk makhluk mengerikan itu.

Hari menjelang sore ketika Kikan bersiap untuk pulang ke rumahnya.

"Ok, Boby. Kita bertemu minggu depan, ya. Semoga besok ada orang yang mengikutiku lagi, jadi minggu depan kamu bisa makan enak."   


weedee
shanhai
10122018


    

Selasa, 22 Januari 2019

Hindari 7 Minuman Pemicu Kanker

Januari 22, 2019 8 Comments



Hindari 7 Minuman Pemicu kanker!
Hai Smart Ladies, seperti kita ketahui kanker adalah salah satu penyakit yang masih sulit diobati. Bukan juga mustahil untuk sembuh dari penyakit ini, tetapi kesembuhan dari kanker memakan waktu dan biaya yang tak sedikit. Kali ini kita akan membahas tentang minuman pemicu kanker. Kalau makanan penyebab kanker, Smart Ladies pasti sudah banyak yang tahu.
Apa saja minuman pemicu kanker?
Dilansir dari Oddity Central, pusat penelitian di bidang kesehatan, menyatakan bahwa ada beberapa minuman yang bisa menyebabkan kanker bila kita tak berhati-hati mengonsumsinya. Di antaranya adalah :
1.     Air Keran
Pipa yang digunakan untuk menyalurkan air keran ke rumah-rumah dalam waktu tertentu bisa berkarat dan kotor.
Selain itu, air juga mengandung klorin yang digunakan untuk membunuh bakteri dan kuman berbahaya.
Selain klorin, juga digunakan Dibutil Ftalat (DBP) yang 1000x lebih berbahaya dari klorin.

2.     Air Kemasan
Yang menjadi masalah adalah botol kemasannya. Botol plastik yang digunakan terbukti mengandung Bisphenol-A / BPA. Zat ini sudah terbukti  dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kanker prostat, payudara, dan gangguan metabolisme tubuh.

3.     Alkohol
Banyak penelitian sudah membuktikan bila alkohol sangat berbahaya bagi kesehatan. Kandungan Etanol dalam alkohol adalah pemicu kanker yang sangat berbahaya.

4.     Minuman Energi
Minuman yang terbuat dari gula, kafein, dan pewarna buatan ini, memang bisa membuat tubuh bugar beberapa jam. Namun, minuman ini juga bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh, meningkatkan tekanan darah, dan gula darah. Kandungan gula yang sangat tinggi menjadikan minuman ini salah satu pemicu kanker, karena gula adalah makanan favorit kanker.

5.     Soda
Kandungan gula, kafein, dan pewarna buatannya juga bisa menimbulkan kanker. Pewarna cokelat yang dipakai pada minuman cola adalah 4-Mel atau Karsinogen.

Bagaimana dengan soda diet?

Soda diet tidak mengandung gula, tetapi mengandung pengganti gula seperti Sukralosa, Sakarin, dan Aspartame. Yang lebih berbahaya dari gula karena zat-zat ini bisa mengacaukan sistem metabolisme tubuh, menimbulkan timbunan lemak berlebih, dan berpotensi menyebabkan diabetes, penyakit jantung dan kanker.



6.     Minuman yang Sangat Panas
WHO menyatakan minuman yang sangat panas bisa menyebabkan kanker tenggorokan. Disarankan untuk mengonsumsi minuman bersuhu 65 derajat Celsius.

7.     Minuman Kopi
Kopi mengandung anti oksidan sebagai pencegah kanker. Namun, minuman kopi yang beredar di pasaran ternyata lebih banyak mengandung gula dan krim. Penambahan sirop, coklat, karamel, atau krim kocok justru menghilangkan khasiat kopi sebagai pencegah kanker.

Itulah sedikit informasi tentang minuman pemicu kanker. Smart Ladies marilah dari sekarang kita lebih berhati-hati dalam mengonsumsi minuman, terutama minuman bersoda, walaupun halal tapi ternyata bahayanya lebih besar daripada nikmatnya.


Weedee
Shanhai
712019


Rabu, 16 Januari 2019

SUASANA BARU

Januari 16, 2019 8 Comments



SUASANA BARU



Steven mengambil minuman dari dalam kulkas. Dia meneguknya beberapa kali. Kerongkongannya terasa segar setelah tersiram air mineral dingin.

Dia ingin beristirahat sejenak, tubuhnya sangat lelah. Pekerjaan yang baru saja dilakukannya memang menguras banyak tenaga. Dia merebahkan tubuhnya di sofa. Nyaman sekali ketika punggungnya menyentuh sofa yang empuk. Dalam sekejap dia sudah terlelap.

Entah berapa lama dia tertidur. Steven terbangun ketika terdengar suara gaduh di luar rumah. Tetangganya terdengar berteriak histeris. Steven tersenyum mendengarnya. Dia tahu persis kenapa tetangganya panik dan berteriak ketakutan.

Steven tetap tenang di dalam rumahnya. Dia beranjak dari sofa, melihat dari jendelanya. Tetangga depan rumahnya terdengar masih menangis histeris. Suasana pagi yang tenang berubah menjadi penuh drama. Steven memutuskan tidak keluar rumah hari ini.

Tubuhnya masih terasa penat. Pekerjaan tadi malam memang sangat melelahkan. Dia sempat bergumul dan hampir terluka. Beruntung dia sudah menyiapkan semuanya dengan seksama. Ketika semua orang pergi ke perayaan tahun baru, dia menjalankan rencananya.

Pengalamannya bekerja di sebuah klinik hewan, sangat membantunya melancarkan aksinya tadi malam. Untung saja dia masih menyimpan beberapa peralatan yang dibutuhkan. Aksinya berjalan lancar. Dia hanya sedikit terluka akibat gigitan ketika obat bius yang dia berikan ternyata tak cukup kuat melemahkannya.  

‘Sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang,’ katanya sambil tersenyum puas.

Tak akan ada lagi suara gonggongan yang sangat mengganggu. Tak ada lagi suara salakan yang bising setiap pagi buta. Bagi Steven dunia terasa lebih nyaman. Tahun baru dibuka dengan suasana baru. Suasana pagi yang tenang tanpa gonggongan anjing tetangganya.

Anjing itu sudah tak bisa lagi bersuara. Karena kemarin malam, ada seseorang yang dengan tega mengambil pita suara anjing berwarna coklat kehitaman itu.

Weedee
Shanhai
512019

Minggu, 06 Januari 2019

RIANTI

Januari 06, 2019 12 Comments



RIANTI


Rianti memeluk jenazah buah hatinya. Dia berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit. Banyak mata menatapnya iba, tapi dia tak peduli. Dia hanya ingin membawa pulang jasad putra tunggalnya ke rumah. Kemudian mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya dengan layak.

“Rianti ...,” Panggil seseorang yang sangat dikenalnya.

Rianti menghentikan langkahnya, menoleh ke arah suara itu. Berusaha tersenyum walau kaku. Setengah berlari, lelaki itu menghampirinya.

“Sini, biar aku yang gendong Zaid,” katanya seraya mengulurkan tangannya hendak meraih jasad Zaid dari gendongan ibunya.

“Tidak, Mas Pras terima kasih. Biar aku saja. Biarkan aku menikmati detik-detik terakhir menggendong anakku, sebelum aku mengantarkannya ke rumah terakhirnya besok,” kata Rianti sambil mencegah tangan Prasetyo meraih tubuh Zaid dari gendongannya.

Prasetyo mengalah, dia tak ingin membuat Rianti bertambah sedih. Kehilangan buah hatinya pasti membuatnya terpukul. Apalagi selama ini Rianti mengurus semuanya sendiri.

***

   “Papanya Zaid belum pulang Mbak Rianti?” tanya pak RT yang membantu mengurus pemakaman putra semata wayangnya.

“Belum, Pak RT,” jawab Rianti tanpa semangat.

“Kita makamkan Nak Zaid sekarang atau menunggu Papanya pulang?” tanya Pak RT lagi.
“Makamkan saja sekarang, Pak. Enggak apa-apa,” kata Rianti pasrah.

“Baik Mbak Rianti, kalau maunya begitu,” ucap Pak RT sambil memandang iba pada Rianti.

‘Percuma menunggu kamu pulang, Mas. Karena kamu gak akan pernah pulang,’ kata Rianti dalam hati.

***

“Rianti, sebaiknya kamu jangan pergi dulu dari sini. Setidaknya tunggu sampai seratus hari anakmu. Kalau tidak sampai Mas Sapto pulang,” kata Prasetyo memberi saran.

Rianti hanya menggeleng, sambil tangannya memberesi barang-barang pribadinya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya.

“Enggak bisa Mas Pras, tiga hari lagi kontrakanku habis. Aku sudah tak ada uang untuk membayar kontrakan ini. Mas Pras tahu sendiri, aku sudah tak memegang uang sepeser pun. Kalau tak ada kamu, entah dengan apa aku harus membayar biaya rumah sakit dan juga biaya pemakaman Zaid,” kata Rianti.

Tak urung air matanya pun jatuh mengalir membasahi pipinya. Air mata yang selama ini dia tahan agar tak jatuh. Bahkan ketika Zaid dimasukkan ke liang lahad, Rianti tetap bertahan agar tak menangis walau pada akhirnya dia tumbang, pingsan setelah jasad putra kesayangannya ditimbun tanah merah.

“Kamu enggak usah kawatir, biar aku yang bayar kontrakan kamu. Yang penting kamu di sini dulu, tunggu suamimu datang,” kata Prasetyo berusaha mencegah niat Rianti.

“Aku enggak mau terus-terusan merepotkan kamu, Mas Pras. Kamu sudah terlalu baik padaku dan Zaid,” kata Rianti seraya menyeka bulir bening yang mengalir dari sudut matanya yang bulat.

“Aku tak pernah merasa kamu repotkan. Aku hanya sekadar membantu selama Mas Sapto pergi. Zaid juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri,” kata Prasetyo

“Terima kasih Mas Pras, selama ini kamu sudah terlalu baik pada kami,” kata Rianti sambil menangis.

‘Tentu saja aku harus baik pada kamu dan juga anak kandungku, Rianti. Seandainya aku punya keberanian mengatakan semua ini, tentu Mas Sapto tak akan menyia-nyiakanmu,’ kata Prasetyo dalam hati.

“Tunggulah Mas Sapto pulang dulu, Rianti. Biar statusmu tak digantung seperti ini,” kata Prasetyo memberi masukan pada Rianti.

Rianti tetap bersikukuh untuk secepatnya pergi dari rumah kontrakannya. Sebelum semuanya terbongkar.

***

Rianti harus secepatnya pergi dari rumah ini. Rumah yang penuh dengan kenangan pahit bersama suaminya. Namun, penuh cerita indah yang tercipta bersama Zaid, buah hati kesayangannya.

Dendam dan sakit hati pada suaminya, memuncak ketika malam itu Mas Sapto menghajar Zaid yang berusaha melindungi Rianti dari amukannya karena kalah berjudi.

Bocah berumur lima tahun itu terbaring bersimbah darah setelah di hajar oleh Mas Sapto. Melihatnya tak bergerak, membuat Rianti kalap. Entah kekuatan dari mana yang membuat Rianti melangkah ke dapur dan mengambil pisau yang paling tajam.

Setelah mengantar Zaid ke rumah sakit, dan meminta Prasetyo menemaninya di sana, Rianti bergegas pulang untuk membereskan rumahnya yang berantakan. Rumahnya berantakan setelah kejadian semalam. Ada sesuatu yang harus dihilangkan oleh Rianti. Dia tak ingin ada yang tahu. Biar hanya dia dan Tuhan yang tahu kejadian semalam. Hidupnya jadi taruhan bila sampai ada yang tahu.

Rianti berdiri di pinggir sungai belakang rumahnya, pelan-pelan dia melemparkan sesuatu ke derasnya air sungai. Beberapa kali Rianti melakukannya. Hingga potongan terakhir yang dia bungkus dengan plastik berwarna hitam. Tak lupa, dia ikatkan batu sebagai pemberat agar benda itu tak mengapung.

Maafkan aku Mas, hanya dengan cara ini aku bisa terbebas darimu. Maafkan bila tempatmu tak layak sebagai tempat istirahat terakhirmu,’ gumamnya pada diri sendiri.

***

Masih terbayang betapa sakit hati Rianti, ketika  suaminya memperlihatkan rekaman dirinya yang tak berdaya karena pengaruh obat bius, tengah digauli oleh Prasetyo, sahabat suaminya.

“Sudahlah jangan sok suci, toh kamu juga menikmati uang hasil kerjamu,” kata lelaki jahanam itu pada Rianti.   

  Rianti tak bermaksud membunuh suaminya, tapi dia tak tahu bagaimana caranya agar bisa lepas dari deritanya, dari lelaki yang sudah menjual tubuhnya dan juga membunuh anaknya.



Weedee
Shanhai
412019






Follow Us @soratemplates